Selasa, 09 Februari 2016

Aku Ke Pura Kau Ke Masjid

    Cinta ya itu hal yang paling lekat dengan masa-masa remaja, belum pernah terpikir arti yang sesungguhnya, itulah menjadi awal kisah ini.
6 Juli 2012 adalah hari jadi kami, sebut saja Jingga gadis manis karyawan swasta di tempat ku bekerja bagian personalia dan tentu saja membuat kami sering berintraksi. awal mulanya kami hanya saling mengisi satu sama lain. Tapi hari demi hari perasaan itu semakin kuat hingga suatu ketika kami duduk bersama untuk membicarakan hubungan kami selanjutnya. Cinta lagi-lagi menjadi faktor akhirnya membuat kami saling terikat. anda berfikir kenapa saya menulis ini, ya perbedaan keyakinan kami yang melatar belakangi cerita ini.

Aku adalah pemuda beragama Hindu, aku begitu menghargai semua keyakinan mungkin itu yang membuat dia menyukai ku,, yang notabene adalah gadis Muslim yang sangatlah tekun beribadah, 1 tahun perjalanan cinta beda agama kami jalani, awalnya baik-baik saja dengan kami juga keluarganya tapi hari itu dia brbeda datang kepada ku sembari menangis dia bilang orangtua nya sangat membenci ku dan mereka ingin kami berpisah... Tapi cinta lagi-lagi mengikatnya kami pun jalan diam-diam, hingga tahun ke 3. 2015 awal juli adalah puncak kepedihan kami dia benar-benar di benci orangtuanya karena hubungan kami. bahkan orangtua nya begitu membenci keyakinan ku bukan pribadiku, dan orangtua nya mengultimatum dia untuk berhenti bekerja di tempat kami bekerja tidak lain supaya kami berjauhan. tepatnya di bulan agustus adalah perpisahan kami...
  semenjak dia jauh hidup terasa hambar ibarat smartphone tanpa kuota, tekhnologi membuat kami tetap saling komunikasi walaupun LDR, bahkan itu berlangsung lama.. di awal oktober cobaan kembali menyapaku, orangtua nya memilihkan dia dengan pemuda di tempat tinggalnya, hubungan kamipun kian rumit dan bagai benang kusut dan Tuhan hadir di sisi ku. kamipun komitmen untuk menerima perbedaan kami dan menjalani hidup masing-masing. tapi kerinduan itu terlalu kuat membuat kami masih curi-curi waktu saling sayang. Tapi Tuhan maha penyayang dan menjawab doa kami (khususnya dia) yang secara tidak di duga-duga mendapatkan pendamping, disisi lain aku benar-benar kecewa tapi disisi lain aku bahagia karena kami memang membenci perjodohan itu.

Dan dalam bulan-bulan ini dia akan menjadi pengantin (duluin aku) hemm miris memang perjalanan kami nyaris 44 bulan berlalu dan di akhiri dengan ke bahagiaan nya.

Soo... apa yang bisa kalian petik dari kisah ku ini, bahwa cinta, agama, restu dan logika adalah rumus yang paling tepat menentukan hasil sebuah hubungan yang bahagia.. ingat satu bagian itu tidak ada maka tidak akan lengkap kebahagiaan mu. Cintailah Tuhan mu dengan kekasih mu bukan dengan egoismu. hingga hari cinta itu begitu masih terasa tapi menerima kenyataan adalah hal bijak saat ini.

kepada teman-teman yang sedang/akan menjalin hubungan seperti ini harap pikir benar-benar atau paling tidak buat komitmen di awal agar kelak tidak lagi jadi permasalahan, percayakan jodoh dan takdirmu kepada Tuhan dan jalani iman mu dengan ketaatan. perbedaan bukan untuk di perdebatkan, tapi perbedaan seharusnya memberi warna untk keindahan dunia ini...

Terimakasih, Cinta yng telah membuatku dewasa menatap dunia ini...

Om santhi om

Sumartawan
email: su18mar@gmail.com
twitter: @bli_sumar18

3 komentar:

  1. kok sama kasus nya bro...aku malah mau dipaid bangkung.. malah kutantangin sekalian kluarganya..

    BalasHapus
  2. ngajak kabur itu bukan solusi, ngapain ngajak kabur orang yang ga bisa nerima tuhan kita.karena menurut tiang ketulusan dia untuk nerima kyakinan suaminya itu lebih penting bli

    BalasHapus