Hehe lebih baik saya senyum dulu sebelum melanjutkan tulisannya.. judulnya lucu ya..??? ini adalah kisah saya sendiri bukan kisah orang lain.
saya bekerja di sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit di daerah Karang Agung Tengah kecamatan Lalan Kab; Musi Banyuasin Sumsel. pada tanggal 2 november 2009, saya adalah anggota satuan pengaman (SATPAM), saya masih ingat betul ketika saya lulus SMA saya sangat bercita cita bisa seperti teman teman lain yang kuliah di kota karena daerah tempat saya tinggal merupakan daerah yang terisolir dari dunia luar. Tapi keadaan ekonomi orang tua ku membuat ku harus mengubur mimpi menjadi anak kuliahan. Entah mengapa rasanya begitu kecewa karena saat itu saya adalah salah satu siswa yang cerdas walaupun tidak aktif di pelajaran karena harus membagi waktu untuk membantu keluarga bersawah. karena saya gagal kuliah akhirnya saya memutuskan untuk bekerja, dan kebetulan sebuah perusahaan membutuhkan tenaga keamanan, karena postur saya yang lumayan ideal saya beranikan diri ikut tes dan Astunkare (alhamdulillah) saya lulus tes. dan dari sejak itu saya memutuskan untuk menjalani hidup mandiri dan tinggal; di perumahan yang di sediakan oleh perusahaan.
Rasanya benar benar sulit hidup sendiri jauh dari orang tua, tapi saya begitu menyukai hal itu di mana saya bisa menjadi pribadi baru, masak sendiri pun saya lakonin waktu itu yang sangat berkesan dan masih ke inget sampai sekarang adalah gajih pertama yangf habis cuma untuk bayar ransum, dan perabotan masak.. hehe menyedihkan sekali...
bulan selanjutnya lebih baik walau cuma bersisa 200rb udah seneng banget, pada januari tahun 2011 di Bandar Agung ibu kotanya kec Lalan membuka program belajar jarak jauh oleh Universitas Terbuka bekerja sama dengan Pemerintah Kecamatan waktu itu jurusan yang di sediakan adalah Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan Ilmu Pemerintahan, karena cita cita masa lampau saya yang tertunda maka saya tekadkan untuk ikut ambil program UT yaitu S1 Ilmu Pemerintahan yang sampe sekarang belum kelar juga, hehehhe
saya tidak pernah berkecil hati untuk setiap kegagalan yang saya alami karena saya percaya di setiap kejadian yang terjadi Tuhan tanpa kita sadari telah menyiapkan alternatif lain yang tidak pernah kita sadari, saya selalu bersyukur walaupun saya ga kuliah di kota seperti temen lainnya setidaknya saya biusa mengutkan hati saya bahwa saya telah mendapatkan hal lebih, ketika yang lain menadahkan tangan kepada orang tua saya sudah bisa beli hp sendiri, kredit motor dan bisa kuliah walauoun cuma sebatas UT saya tetap bangga karena telah bisa menepis budaya buruk masyarakat kita yang beranggapan kalau udah kerja untuk apa kuliah. dan saya dengan kesadaran penuh mengajak rekan rekan pembaca untuk tidak menyepelekan pendidikan. jika saya punya uang banyak maka saya akan membeli ilmu dan pendidikan itupun kalau ada toko yang jual...
harta sebanyak apapun tidak bisa membeli 1 bait ilmu sekalipun tetapi 1 bait ilmu mampu membeli jutaan kebodohan.;..
sekian dari saya harap maklum dengan isi ataupun cara saya menulius karena saya adalah pengguna baru yang juga mau menjadi penulis, siapa tau nantinya akan heboh bahwa SATPAM jadi penulis besar,, ehehhehe
terimakasih
sumartawan di Lalan
email: su18mar@gmail.com
pin: 5b569999
twitter: bli_sumar18
Jumat, 12 Februari 2016
Selasa, 09 Februari 2016
Aku Ke Pura Kau Ke Masjid
Cinta ya itu hal yang paling lekat dengan masa-masa remaja, belum pernah terpikir arti yang sesungguhnya, itulah menjadi awal kisah ini.
6 Juli 2012 adalah hari jadi kami, sebut saja Jingga gadis manis karyawan swasta di tempat ku bekerja bagian personalia dan tentu saja membuat kami sering berintraksi. awal mulanya kami hanya saling mengisi satu sama lain. Tapi hari demi hari perasaan itu semakin kuat hingga suatu ketika kami duduk bersama untuk membicarakan hubungan kami selanjutnya. Cinta lagi-lagi menjadi faktor akhirnya membuat kami saling terikat. anda berfikir kenapa saya menulis ini, ya perbedaan keyakinan kami yang melatar belakangi cerita ini.
Aku adalah pemuda beragama Hindu, aku begitu menghargai semua keyakinan mungkin itu yang membuat dia menyukai ku,, yang notabene adalah gadis Muslim yang sangatlah tekun beribadah, 1 tahun perjalanan cinta beda agama kami jalani, awalnya baik-baik saja dengan kami juga keluarganya tapi hari itu dia brbeda datang kepada ku sembari menangis dia bilang orangtua nya sangat membenci ku dan mereka ingin kami berpisah... Tapi cinta lagi-lagi mengikatnya kami pun jalan diam-diam, hingga tahun ke 3. 2015 awal juli adalah puncak kepedihan kami dia benar-benar di benci orangtuanya karena hubungan kami. bahkan orangtua nya begitu membenci keyakinan ku bukan pribadiku, dan orangtua nya mengultimatum dia untuk berhenti bekerja di tempat kami bekerja tidak lain supaya kami berjauhan. tepatnya di bulan agustus adalah perpisahan kami...
semenjak dia jauh hidup terasa hambar ibarat smartphone tanpa kuota, tekhnologi membuat kami tetap saling komunikasi walaupun LDR, bahkan itu berlangsung lama.. di awal oktober cobaan kembali menyapaku, orangtua nya memilihkan dia dengan pemuda di tempat tinggalnya, hubungan kamipun kian rumit dan bagai benang kusut dan Tuhan hadir di sisi ku. kamipun komitmen untuk menerima perbedaan kami dan menjalani hidup masing-masing. tapi kerinduan itu terlalu kuat membuat kami masih curi-curi waktu saling sayang. Tapi Tuhan maha penyayang dan menjawab doa kami (khususnya dia) yang secara tidak di duga-duga mendapatkan pendamping, disisi lain aku benar-benar kecewa tapi disisi lain aku bahagia karena kami memang membenci perjodohan itu.
Dan dalam bulan-bulan ini dia akan menjadi pengantin (duluin aku) hemm miris memang perjalanan kami nyaris 44 bulan berlalu dan di akhiri dengan ke bahagiaan nya.
Soo... apa yang bisa kalian petik dari kisah ku ini, bahwa cinta, agama, restu dan logika adalah rumus yang paling tepat menentukan hasil sebuah hubungan yang bahagia.. ingat satu bagian itu tidak ada maka tidak akan lengkap kebahagiaan mu. Cintailah Tuhan mu dengan kekasih mu bukan dengan egoismu. hingga hari cinta itu begitu masih terasa tapi menerima kenyataan adalah hal bijak saat ini.
kepada teman-teman yang sedang/akan menjalin hubungan seperti ini harap pikir benar-benar atau paling tidak buat komitmen di awal agar kelak tidak lagi jadi permasalahan, percayakan jodoh dan takdirmu kepada Tuhan dan jalani iman mu dengan ketaatan. perbedaan bukan untuk di perdebatkan, tapi perbedaan seharusnya memberi warna untk keindahan dunia ini...
Om santhi om
Sumartawan
email: su18mar@gmail.com
twitter: @bli_sumar18
6 Juli 2012 adalah hari jadi kami, sebut saja Jingga gadis manis karyawan swasta di tempat ku bekerja bagian personalia dan tentu saja membuat kami sering berintraksi. awal mulanya kami hanya saling mengisi satu sama lain. Tapi hari demi hari perasaan itu semakin kuat hingga suatu ketika kami duduk bersama untuk membicarakan hubungan kami selanjutnya. Cinta lagi-lagi menjadi faktor akhirnya membuat kami saling terikat. anda berfikir kenapa saya menulis ini, ya perbedaan keyakinan kami yang melatar belakangi cerita ini.
Aku adalah pemuda beragama Hindu, aku begitu menghargai semua keyakinan mungkin itu yang membuat dia menyukai ku,, yang notabene adalah gadis Muslim yang sangatlah tekun beribadah, 1 tahun perjalanan cinta beda agama kami jalani, awalnya baik-baik saja dengan kami juga keluarganya tapi hari itu dia brbeda datang kepada ku sembari menangis dia bilang orangtua nya sangat membenci ku dan mereka ingin kami berpisah... Tapi cinta lagi-lagi mengikatnya kami pun jalan diam-diam, hingga tahun ke 3. 2015 awal juli adalah puncak kepedihan kami dia benar-benar di benci orangtuanya karena hubungan kami. bahkan orangtua nya begitu membenci keyakinan ku bukan pribadiku, dan orangtua nya mengultimatum dia untuk berhenti bekerja di tempat kami bekerja tidak lain supaya kami berjauhan. tepatnya di bulan agustus adalah perpisahan kami...
semenjak dia jauh hidup terasa hambar ibarat smartphone tanpa kuota, tekhnologi membuat kami tetap saling komunikasi walaupun LDR, bahkan itu berlangsung lama.. di awal oktober cobaan kembali menyapaku, orangtua nya memilihkan dia dengan pemuda di tempat tinggalnya, hubungan kamipun kian rumit dan bagai benang kusut dan Tuhan hadir di sisi ku. kamipun komitmen untuk menerima perbedaan kami dan menjalani hidup masing-masing. tapi kerinduan itu terlalu kuat membuat kami masih curi-curi waktu saling sayang. Tapi Tuhan maha penyayang dan menjawab doa kami (khususnya dia) yang secara tidak di duga-duga mendapatkan pendamping, disisi lain aku benar-benar kecewa tapi disisi lain aku bahagia karena kami memang membenci perjodohan itu.
Dan dalam bulan-bulan ini dia akan menjadi pengantin (duluin aku) hemm miris memang perjalanan kami nyaris 44 bulan berlalu dan di akhiri dengan ke bahagiaan nya.
Soo... apa yang bisa kalian petik dari kisah ku ini, bahwa cinta, agama, restu dan logika adalah rumus yang paling tepat menentukan hasil sebuah hubungan yang bahagia.. ingat satu bagian itu tidak ada maka tidak akan lengkap kebahagiaan mu. Cintailah Tuhan mu dengan kekasih mu bukan dengan egoismu. hingga hari cinta itu begitu masih terasa tapi menerima kenyataan adalah hal bijak saat ini.
kepada teman-teman yang sedang/akan menjalin hubungan seperti ini harap pikir benar-benar atau paling tidak buat komitmen di awal agar kelak tidak lagi jadi permasalahan, percayakan jodoh dan takdirmu kepada Tuhan dan jalani iman mu dengan ketaatan. perbedaan bukan untuk di perdebatkan, tapi perbedaan seharusnya memberi warna untk keindahan dunia ini...
Terimakasih, Cinta yng telah membuatku dewasa menatap dunia ini...
Om santhi om
Sumartawan
email: su18mar@gmail.com
twitter: @bli_sumar18
Langganan:
Postingan (Atom)